Tuesday, December 23, 2008

Edensor

Buku ketiga dari Andrea Hirata. Gak bisa dilukiskan dengan kata-kata. A must read. Harus dibaca, buku ini paling gw suka dari dua buku yang lainnya. Serasa ikut berpetualang bersama Ikal dan Arai. Mengunjungi Eropa dan Afrika. Mengunjungi sisi-sisi gelap dari berbagai kota, jadi inget baca The Alchemistnya Paulo Coelho. Dan akhirnya dia ketemu juga tuh desa Edensor yang dia mimpi-mimpikan selama ini.

“Bermimpilah, karna Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” - Arai

Note.
yang pasti itu bukan kukunya A Ling hihihi….

Sang Pemimpi


Gara gara asik baca Laskar Pelangi, akhirnya lanjut deh ke buku keduanya Andrea yaitu Sang Pemimpi. Kalau di Laskar Pelangi dia menceritakan tentang persahabatan Ikal masa kecilnya pada waktu SD & SMP, maka kalau di Sang Pemimpi, menceritakan tentang masa SMA IKal dengan dua sahabat terbaiknya yaitu Arai & Jibron. Di buku ini, lebih fokus kepada cerita dan mimpi tiga sahabat ini.

Kisah pertama di mulai dengan kenakalan Ikal dan sahabatnya yang seperti buku sebelumnya diceritakan dengan sangat kocak. Suka sekali dengan gaya tulisannya Andrea. Lucu, asik tanpa bersikap menggurui orang yang membacanya.

Arai adalah sepupu jauhnya Ikal, dia disebut “simpai keramat” yaitu orang terakhir yang tersisa dalam satu klan. Jadi semua keluarganya sudah tidak ada. Dia menjadi sahabat dan kakak dan sering menolong Ikal tapi juga menjadi partner in crime hehe kalau Arai bilang dia Lone Ranger berarti Ikal adalah Tonto. Kemudian Jibron, teman gembulnya yang terkena penyakit obsesif kompulsif pada kuda. Tanyakan saja padanya apapun tentang kuda , Jibron pasti tahu, walaupun dia belum pernah melihat satu ekor kudapun dalam hidupnya sampai akhirnya capo sebutan utk nyonya Pho, ketua preman pasar ikan memelihara kuda Australia di Belitong.

Maka di mulailah cerita tentang mereka. Walaupun mereka biang rusuh di sekolah tapi tetap mengutamakan pelajaran. Kadang Ikal juara 3 di sekolah dan Arai juara ke 5. Tapi ada saat Ikal terpuruk sedih karna dia merasa mimpinya bakalan tidak terwujud hingga dia menjadi juara ke 75 dari 160 orang di sekolah. Tapi ayahnya yang dia cintai, ayah juara satu di seluruh dunia menurut Ikal tetap datang ke sekolah mengambil rapor dan tetap dengan senyum bangganya kepada anaknya. Sehingga membuat Ikal tersadar setelah dimaki-maki oleh Arai bahwa kita tak boleh mandahului nasib.

Buku ini menurutku bagus, sama bagusnya dengan yang pertama. Bahwa bermimpi itu tidak apa-apa. Karna dengan bermimpi kita bisa bertahan. Walaupun banyak kesulitan tapi dengan mewujudkan mimpi itu pasti akan ada yang terbaik untuk kita petik.

“No matter the storm, when you are with God there’s always a rainbow waiting”

Note.
Can’t wait to read the third book, Edensor

Laskar Pelangi


Finally…gw ntn jg nih pelem. Dengan berbekal rayuan maut akhirnya aku berhasil mengajak Dewi ntn pelem ini utk yg kedua kalinya hihi. Ga pa pa deh dibilangin ketinggalan, yg penting ditonton toh..

Pertama sih sbnrnya gw udh mewanti-wanti diri gw sendiri kalo ntn film indonesia brati jangan berharap banyak. Trus gw juga tau kalo film yang di adaptasi dari novel suka mengecewakan, kadang suka gak sesuai dengan bukunya. So dgn berbekal perut kenyang and beli minum doang, gw tontonlah film ini. Ternyata more than I expected. Bagus banget filmnya. Ada kelucuan, ada kesedihan, ada pemikiran ttg hidup. Ada saat-saat mataku berkaca-kaca, ada saat-saat tawaku terdengar. The cast is okay walopun Tora agak keteter dgn logatnya, harusnya melayu malah gw dgr kayak logat Bali hehe…

Habis menonton film ini, gw merasa gembira sekaligus sedih. Gembira karna gw merasa Tuhan baik banget sama gw dengan keadaan gw yang sekarang. Gak susah dapat sekolah, gak susah dapet kerjaan, gak susah cari makan. Malah kadang kita suka buang apa yang menurut orang sangat berharga. Sedih karna tahu ternyata masih banyak anak2 yang sangat miskin yang membutuhkan sekolah dan belajar agar lebih maju. Coba bayangkan apa rasanya ada anak yg sepintar Lintang, bukan pintar, tapi genius, tp karna keadaan jadi tidak bisa meneruskan sekolahnya karna harus menghidupi adik2nya. Miris memang…

Akhirnya gw memutuskan untuk membaca bukunya. Lembar pertama adalah pujian2 orang utk laskar pelangi. Gw skip, soalnya gak mau mempengaruhi bacaan gw. Kalo baca pujian itu kadang suka kecewa kalau ternyata bukunya gak sebagus pujiannya. Mulailah membaca bab pertama, cara dia melukiskan segala sesuatunya sangat apik, beda dengan tulisan yang lain. Gw jadi tertarik dan terus mengikutinya.

Kesimpulan : Bukunya bagus sebagus filmnya ( ya iya lah..semua org jg udh tau heheh…) walaupun ada bbrp bagian yang gak sama antar buku dan film tapi menurut gw film tersebut menunjang bukunya. Sangat memvisualisasikan buku tsb. Seperti kata Andrea Hirata, kalau kamu menyukai novelnya, kamu akan menyukai filmnya dengan cara yang berbeda.
Aku bersyukur dengan hidupku. Thanks utk buku & filmnya

Dal Ja's spring - KDrama


DJ: How can you tell if it’s love or not?
Just because your heart races, doesn’t mean it’s love.
Just because you miss the person, doesn’t mean it’s love.
There isn’t a person who draws a line and says “this is where love starts”.
How can you tell if it’s love or not?

SY: Because of that person, does your heart unbearably happy?
Because of that person, does your heart hurt and limp?
Because of that person do you feel so alone?
If yes, then it has already started.

Watch this cute, lovable, funny, heartwarming Dal Ja’s Spring series.
Dal ja is a 33 years old woman. She has been working on Handa Homeshopping Department for 8 years. Until that age, she can’t find her trully soulmate yet. First, she has a boyfriend but he’s a playboy (Shin Sae-do). And then, she has another one, the marriage man (Eom Ki-joong). In accidentally, she meet one person (Kang Tae-bong- he’s cute as always hehe) who has a job that can be a counterfeit lover. And then the love story begins with Dal Ja and Tae Bong.

Storyline is pretty good and what i love are the cleverly done parodies of movies/films like Kill Bill, Jewel in the Palace, Pretty Woman etc or Candy comics which are artfully interwined into the series whenever Dal Ja is imagining or fantasizing..very creative way of portraying humour! The comic illustrations a la french sketches at the beginning and end of every episode are very cute as well!

“There was nothing like an end, or conclusion. And so, there was no ‘happily ever after’ either. There was only, ‘Every day, we start today together again’….”

And Tae Bong’s revised postcard says: “If it’s fate… It must be!!”

Note.
my head still upside down coz I finished this series (22 eps) only 2 days!!

Monday, December 22, 2008

Happy mom's day

IBU

kata yang paling indah yang terucap oleh bibir manusia adalah ibu
dan panggilan yang paling indah adalah ibuku
kata yang penuh harapan dan cinta
kata manis dan indah yang datang dari kedalaman lubuk hati

ibu adalah segalanya
dia adalah penghibur kita dalam sedih
dia adalah sumber cinta, kebaikan, simpati, dan maaf
dia yang kehilangan ibu akan kehilangan sebuah jiwa murni yang selalu menjaga dan memberkati

seluruh isi semesta bicara dalam bahasa ibu
matahari adalah ibu bumi yang memberi makanan dan panasnya
dia tidak akan meninggalkan bumi sampai malam
menidurkannya dalam buaian ombak dan nyanyian burung-burung
dan sungai-sungai
dan bumi adalah ibu pohon-pohon dan bunga-bunga
dan menumbuhkan, merawat, dan menyapihnya
pohon-pohon dan bunga-bunga menjadi ibu yang baik
bagi buah-buahan dan biji-bjiannya

dan ibu teladan segala eksistensi adalah jiwa abadi
penuh dengan cinta dan keindahan

kata ibu tersembunyi di dalam hati
dan ia akan keluar dari bibir di saat-saat sedih atau bahagia
bagaikan harum yang keluar dari lubuk bunga-bunga
dan merebak, tatkala terang atau mendung di udara

---diambil dari cinta, keindahan, dan kesunyian by k. gibran

Selamat Hari Ibu..I love you Mom!!

Friday, December 19, 2008

Marley & Me


Aku sudah tahu kalau Marley & Me akan di filmkan and yg main Jennifer Aniston & Owen Wilson, tapi baru kemarin akhirnya bisa melihat trailer nya. Excited banget lihatnya and jadi kangen dengan sosok Marley and then I decided to read again this book. Sebenarnya waktu di Gramedia, buku ini udah aku pegang, critanya mau dibeli, tapii tergoyahkan dgn novel yang lain jadilah gak jadi beli. But somehow on my birthday this year, my friend gave this book to me. Well emang sudah takdirnya tuh buku harus gw baca hehe..

Marley adalah seekor anjing Labrador Retriever hiperaktif milik pasangan penulis Jenny & John Grogan. Mereka menemukannya pada saat melihat iklan di koran dan membelinya dengan harga murah daripada sodara-sodaranya yang lain. “Anjing obral” ini dinamakan Marley setelah perdebatan yang sengit antara Jenny & John yang akhirnya terobati setelah mendengarkan Bob Marley yang sangat asik.

Segera Marley tumbuh menjadi anjing seberat 97 pon yang siap menabrak apa saja. Ia seolah-olah kelebihan energi, selalu melompat-lompat, ,berlari menerobos pintu angin, menggigiti tembok hingga berlubang, mencuri celana dalam wanita, dan memakan hampir semua benda yang bisa diraihnya, termasuk sofa dan perhiasan. Ia pernah mengikuti sekolah kepatuhan dan langsung dikeluarkan karna mengabaikan instruksi pelatihnya dan membuat malu pelatihnya di depan pemilik anjing yang lain. Tapi akhirnya Marley bisa lulus juga setahun kemudian dari sekolah, peringkat 7 dari 8 peserta. Bahkan dokter hewan nya pun memberikan dia obat penenang disertai pesan: “Jangan ragu-ragu untuk menggunakan obat ini”.

Ekornya benar-benar kuat tak ubahnya seperti berang-berang. Semua benda di rumah yang terletak pada ketinggian selutut melayang oleh ayunan ekornya yang bertenaga. Ia membersihkan meja kopi, menbuat majalah berantakan, menjatuhkan bingkai foto dan menerbangkan botol-botol bir dan anggur. Ada saja yang bisa disembunyikannya, handuk kertas, segumpal tisu, bon belanja, pembuka botol, klip kertas, buah catur, tutup botol – bagaikan mengambil dari kantong pemulung. Ayah John menyimpulkan setelah Marley suatu hari berusaha melakukan ritual kawin dengan lututnya, “ Ada skrup yang lepas pada anjingmu itu”. Kesimpulan: Mereka butuh bantuan.

Meskipun punya kecenderungan bikin kacau, Marley adalah anjing berhati mulia dan setia. Ia berbagi kebahagiaan bersama John & Jenny saat kehamilan pertama Jenny dan kesedihan mereka saat Jenny keguguran. Ia juga yang berdiri di samping John dan berjaga-jaga saat seorang gadis tetangga menjadi korban penusukan. Marley juga bersikap lembut dan bersahabat terhadap ketiga anak John & Jenny – Patrick, Conor and Colleen, walaupun dibayangi-bayangi dengan kecintaan Marley terhadap bau popok. Mereka memanggilnya ‘Waddy’. Dan Marley pun sempat mendapatkan peran di film. Wajar jika segenap anggota keluarga menyayanginya walaupun kerugian yang dilakukan Marley sangat besar. Marley mempunyai kecenderungan panik di saat badai datang hingga merusak benda-benda disekitarnya. Sofa, kasur bahkan pintu dan dinding pembatas ruangan bisa habis dikunyahnya!

Ada adegan yang lucu saat Marley menari mambo. Mereka menjulukinya Marley Mambo sebagai tanda kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dalam mulutnya. Hampir setiap hari John harus membuka paksa mulutnya untuk mengeluarkan mainan tentara, tutup botol bayi bahkan cek gaji John! Yang parah adalah ketika Marley menelan kalung emas yang diberikan John kepada Jenny. Dengan alat pencahar alami yaitu mangga (dia sangat suka sekali dengan mangga) setelah beberapa hari kemudian barulah ditemukan kalung itu oleh John and you know what, kalung itu makin bersinar dan jauh lebih indah dari yang sebelumnya! Ternyata asam lambung Marley membuat kalung itu berkilat. There always good things happen after the worst hehe..

Bab bab terakhirnya menceritakan tentang perjuangan Marley yang sudah tua. Nyeri di panggulnya dan kesakitannya karna perutnya terpelintir. Hingga akhirnya Marley “ditidurkan” agar tak lagi merasa kesepian. Umurnya 13 tahun pada saat itu. Satu tahun dalam kehidupan seekor anjing setara dengan tujuh tahun dalam hidup seorang manusia. Jika dihitung berarti umur Marley sudah 91 tahun. Pantas saja tubuhnya melemah dan cepat letih.
Membaca buku ini ada kesan tersendiri. Ada senyuman, ada tawa terpingkal-pingkal, ada tangisan pada saat Marley harus ditidurkan. Dia mengajarkan tentang kesetiaan. Selalu semangat menyambut hari baru dengan cinta tanpa syarat.

“Anjing tidak butuh mobil bagus atau rumah besar atau pakaian buatan desainer. Simbol status tidak berarti apa-apa baginya. Sepotong kayu sudah cukup baginya. Seekor anjing menilai yang lainnya tidak berdasarkan warna kulit, keyakinan atau kelas tapi berdasarkan apa yang ada dalam hati mereka. Seekor anjing tidak peduli apakah anda kaya atau miskin, berpendidikan atau buta huruf, pandai atau bodoh. Berikan hati anda dan ia akan memberikan hatinya untuk anda” (Kolom perpisahan untuk Marley oleh John, Chapter 28)
Kesimpulan : Dog is a man’s bestfriend.

Thursday, December 4, 2008

About age

A man asks a question to B:

A: “There are two women. One is 28 but looks 35. The other is 35, but looks 28. Which would you choose?”
B: “Hmm…. That’s a difficult question.”
A: “So I see, that’s a difficult question to you?”
B: “What’s the answer?”
A: “Whichever woman you choose, age is unimportant. What important are your feelings. That’s the answer.”